Laman

Selasa, 04 Oktober 2011

" WAKATOBI " Tak Sekedar Terumbu Karang ( Part 2 )

Dermaga pulau tomia pagi ini tampak mulai ramai. Jadwal keberangkatan kapal dari tomia menuju ke kaledupa & wangi-wangi selalu di pagi hari. sekitar jam 9 – 10. Namun lagi2 karena air laut yang surut, kapal motor kayu “ dito wakatobi “ yang akan kami tumpangi tidak dapat merapat ke dermaga. Dan kami harus memakai kapal yang berukuran lebih kecil untuk sampai di kapal utama yang menunggu di sekitar 50 meter dari bibir pantai. Ongkos kapal kecil 10 ribu rupiah. Sedangkan ongkos kapal ke wangi – wangi 80 ribu rupiah. Sebelum berangkat kami menyempatkan diri untuk berfoto2 terlebih dahulu di sekitar dermaga.
                           narsis di dermaga bersama anak2 Makassar Backpackers

Perjalanan dilanjutkan kembali ke pulau wangi-wangi. Pulau pertama di kepulauan wakatobi. Sebenarnya saya dan teman2 ingin sekali singgah terlebih dahulu di pulau kaledupa. Tapi karena waktu yang tidak memungkinkan, akhirnyanya kami harus melewatkan pulau ini. Padahal pulau ini juga menyimpan banyak tempat2 yang mempesona. Terutama alam bawah lautnya.bahkan salah satu pulau kecil yg berada tak jauh dari kaledupa di kabarkan adalah salah satu spot snorkeling & diving terbaik yang ada di wakatobi. Pulau itu bernama pulau hoga.
Setelah berlayar melawan ombak selama 6 jam, sekitar jam 3 sore saya dan teman2 tiba di pelabuhan wanci. Wanci sendiri adalah ibukota kabupaten Wakatobi. Di pulau ini sangat berbeda dengan pulau tomia. Penduduk di pulau ini jauh lebih ramai di bandingkan di pulau tomia. Di pulau ini sudah banyak kendaraan beroda 4. Angkutan2 umum juga sudah banyak. Jadi kita dapat berkeliling pulau dengan menggunakan jasa angkutan umum. Di kota wanci saya dan teman2 bertemu dengan salah seorang teman dari jejaring sosial. Namanya Seto. Pria asli wakatobi ini berprofesi sebagai wiraswasta di kota ini. Sesekali dia juga suka menemani turis yang ingin menyelam (diving). Setelah bertemu, dia mengantarkan kami ke sebuah hotel di dekat tokonya. Wakatobi hotel. Ya.. itu nama yang tertulis di papan nama di pintu gerbang hotel ini. Tarif menginap di hotel ini berkisar dari harga 165 ribu – 250 ribu permalam. Untuk mengirit pengeluaran, kami mengambil kamar yang 165 ribu permalam. Kamar berukuran 4 x 5 ini harus kami isi dengan 5 orang. Ketika chek in salah satu petugas resepsionis sempat terperangah melihat kami yang berjumlah 5 orang hanya memesan 1 kamar yang berukuran kecil. Tapi masa  bodo. Saya dan teman2 tak memperdulikannya. Yang penting bisa untuk sekedar merebahkan badan.hahahaha.
Setelah beristihat sejenak, saya dan teman2 memulai pertualangan kami kali ini di pulau wangi-wangi. Namun, sebelum itu kami menyempatkan diri untuk bertemu dengan salah satu teman lagi yang memang berdomisili di sini. Pria ini bernama Nova. Dan ternyata rumahnya pun tidak jauh dari hotel tempat kami menginap. Ketika bertemu, nova sempat kaget mengetahui kami telah memesan kamar di hotel. Padahal dia sudah menyiapkan rumahnya untuk kami tempati. Akh.. bukan rezeki. Akhirnya kami harus merelakan tumpangan gratis itu.  Tetapi kami masih dapat tawaran makan gratis di rumahnya. Rezeki kali ini tidak dapat kami tolak. Lumayan,, mengurangi sedikit pengeluaran.
makan gratis with nova's family

Menu makan malam kali ini lagi2 tak jauh2 dari seafood. Ikan pogo-pogo & ikan baronang bakar menjadi menu utama. Kami menyantap hidangan makan malam dengan di temani oleh keluarga nova. Keluarga nya juga tak kalah ramahnya dengan keluarga pak asraf sewaktu kami di tomia kemarin. Mereka sangat welcome dengan kehadiran kami di sini. Lagi2 saya hanya bisa bersyukur kepada ALLAH atas karunia dan kemudahan yang di limpahkanNYA kepada kami. Alhamdulillah yaa.. sesuatu sekali….!
Kami sangat beruntung kali ini. Karena di dekat tempat kami menginap sedang diadakan ritual adat pingitan. Ritual ini adal ritual rutin yang di lakukan oleh masyarakat wakatobi ketika salah satu dari putri mereka beranjak dewasa ( akhil baligh ). Di mulai dengan melumuri badan si anak dengan air kunyit yang di campur dengan beras yang direndam dan kemudian di tumbuk sampai halus. Setelah itu si anak harus di kurung di kamarnya selama 8 hari 8 malam. Cara tidurnya pun tidak boleh sembarangan. 4 hari pertama mereka harus tidur menghadap ke timur lalu 4 hari berikutnya menghadap ke barat. Kami mendapatkan kehormatan dengan di perbolehkan untuk melihat kamar sang anak. Ternyata tidak hanya 1 anak wanita saja yang di pingit di sini. Ada 8 orang anak. Dan ternyata semuanya masih terikat saudara satu sama lain. Adat pingitan  ini sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka dahulu. Konon jika ada anak wanita dari mereka yang tidak dipingit, maka dia tidak di perbolehkan untuk menikah. Jadi syarat untuk menikah bagi wanita2 di sini bukannya hanya sekedar cukup umur dan restu orangtua saja.tetapi pingitan juga menjadi salah satu syarat mutlak untuk melakukan pernikahan. Hmm… budaya yang sangat unik.
para gadis yang lagi dipingit

Puncak dari ritual adat ini adalah mengarak si anak keliling kampung dengan menggunakan tandu yang di pikul oleh para pria.dan di iringi dengan tarian2 dan music tradisional adat wakatobi. Namun sayangnya kami tidak dapat meenyaksikan puncak dari ritual itu. Lagi2 karena waktu yang tidak memungkinkan.
Puas dengan melihat ritual adat di wanci, kamipun kembali ke penginapan untuk beristirahat. Jangan di bayangkan bagaimana sengsaranya kami beristirahat. Kamar yang kecil harus kami isi dengan jumlah kami yang melebihi kapasitas. namun walaupun berdesak2an, kebersamaan tetaplah hal yang indah. Terbukti kami tetap merasa nyaman dan tidur nyenyak ( hanya ada beberapa yang tidak nyaman, karena harus bergulat dengan suara dengkuran teman yang lain). Hahahaha.. mamat nah..!
Cahaya sang surya di pagi hari yang indah membangunkan kami dari pejaman mata. Rencana hari ini adalah bersnorkling, berkunjung ke air goa kontamale & benteng liya. Setelah selesai mandi, saya, noa, reza & nova berangkat ke spot snorkeling di wanci. Di wanci sendiri ada 2  spot yang sering di kunjungi wisatawan. Yang satu berada di kormeb dan satu lagi di sombu. Karena sombu  adalah tempat yang di pakai saat upacara bendera di bawah laut lalu, akhirnya kami memutuskan untuk snorkeling disana. Dari kota wanci saya dan teman2 menggunakan jasa angkot atau pete pete  untuk sampai di sombu. Jaraknya sekitar 6-7 km. cukup dengan membayar ongkos 3000 per orang.sedikit saran buat yang lain jika ingin ke sombu menggunakan angkot, usahakan untuk meminta di jemput kembali dengan supirnya. Karena jika menunggu angkot yang lewat di sini jarang.
ritual sebelum snorkling. ( narsis doeloe )

Snorklingpun di mulai. Tanpa menunggu aba2 lagi, kami langsung turun ke laut. Di sombu ini terdapat sebuah jembatan dermaga yang langsung menuju ke spot karang. Jadi, begitu turun ke bawah kita sudah dapat langsung menikmati keindahan karang2nya. Terumbu karang dan biota2 laut lainnya yang menunggui tempat ini cukup bagus. Tapi jika di bandingkan dengan  terumbu karang yang berada di pulau tomia masih belum apa2nya. Di tempat ini banyak terumbu2 karang yang rusak, mungkin akibat orang2 yang tidak bertanggung jawab. Nelayan2 yang melempar jangkar kapalnya sembarangan. Sayang sekali. Mungkin dahulunya terumbu karang di tempat ini tak kalah indahnya dengan yang ada di tomia. Namun saya melihat banyak terumbu2 karang yang baru tumbuh. Jika masyarakat setempat bisa menjaganya, saya yakin beberapa tahun lagi tempat ini akan menjadi salah satu syurga bawah laut yang terbaik di negeri ini.
Ketika sedang asyik bersnorkling, serombongan turis asing juga datang ke tempat ini. Ternyata mereka juga ingin melihat keindahan bawah laut di sini. Karena tak terbiasa melihat orang asing, saya dan teman2 memberanikan diri untuk menyapa dan berbincang2 dengan turis2 itu. Bahkan saya sempat berfoto bersama dengan mereka. Hahaha.. maklum,,  saya orang desa. Hehehehe.
wong - wong katrox.. hahahaha

Puas dengan para ikan2 di bawah, saya dan teman2 menyudahi snorkeling kali ini. Kami melanjutkan perjalanan menuju air goa kontamale. Di pulau wangi2 terdapat banyak sekali air goa yang di jadikan pemandian umum oleh warga setempat. Goa ini terbentuk sudah sejak lama. Sayangnya saya kurang tahu bagaimana goa ini terbentuk. Salah satu dari goa itu adalah kontamale. Terletak di pertengahan antara wanci dan sombu. Jika kita menggunakan angkot dari wanci, cukup membayar 3000 ribu rupiah. Jika menggunakan ojek motor agak sedikit mahal, 5000 rupiah. Letak goa ini sekitar 100 meter masuk ke dalam dari jalan raya. Cukup berjalan kaki saja untuk sampai di sana. Hitung2 sambil olahraga sedikit.
air goa kontamale

Begitu sampai di muka goa, saya dan teman2 tampak takjub. Tempat ini sungguh cantik sekali. Airnya yang bening membuat diri ini tak sabar untuk menceburkan diri ke bawah. Dari atas air kita dapat melihat dasar tanahnya. Awalnya saya kira tidak dalam. Tetapi begitu masuk, waaw… dalam sekali..! jadi,, buat kalian yang tidak bisa berenang jangan coba2 ya.. hehehe. Tapi jangan khawatir. Di samping goa utama terdapat sebuah pemandian yang tidak dalam, biasanya di pakai untuk anak2 atau untuk orang dewasa yang tidak bisa berenang.  Kembali ke cerita, di tempat ini ada sebuah legenda. Menurut warga yang ada di sini, tempat ini ada penunggunya. Salah seorang wanita bercerita bahwa setiap hari jum’at sang penunggu selalu menampakkan wujudnya. Sosok penunggu tersebut adalah seekor gurita. Banyak warga yang pernah menyaksikannya. Sayang, kami tidak mempunyai kesempatan untuk membuktikan hal tersebut.
Selesai membersihkan diri di tempat ini, kami kembali ke penginapan. Sebenarnya saya masih ingin berlama2 di goa ini. Tapi sayang , kami harus segera check out dari hotel jika tidak ingin kena tambahan biaya sewa. Terpaksa saya merelakan kesempatan untuk berlama2 di sini.  Lagi pula perut juga sudah mulai meronta2 minta diisi. Akhirnya kami semua meninggalkan goa eksotis tersebut.
Setelah menyelesaikan administrasi  hotel. Saya dan teman2 menuju rumah makan pelangi yang berada di dekat hotel tempat kami menginap tadi. Rumah makan ini pernah disebutkan oleh sebuah majalah travelling sebagai tempat makan yang murah di pulau wangi2. Karena itu saya memilih makan siang di tempat ini. Ketika selesai makan, saya benar2 kaget ketika mendengar harga yang di sebutkan oleh pelayan. Nasi+ hati ayam di hargai 25ribu. Di tambah segelas es teh manis seharga 5 ribu. Total harga yang harus saya bayar adalah 30 ribu rupiah. Saya hanya bisa berkata dalam hati, “ itu majalah tahun kapan ya ??? “ hmm…!
Dengan hati yang masih menggerutu karena merasa kecolongan di rumah makan tadi, saya kembali melanjutkan pertualangan ke benteng liya. salah satu benteng peninggalan kerajaan buton yang ada di pulau wangi2. Jarak dari pasar central wanci ke benteng liya sekitar 15 KM. kami mencharter sebuah angkot untuk membawa kami ke benteng tua itu. Cukup membayar 50 ribu rupiah kami akan diantar pulang- pergi. Itu sudah harga yang paling murah. Jika menggunakan taksi atau sewa mobil hotel biasanya harga berkisar sekitar 150-200 ribu.
gerbang utama benteng liya

Benteng liya adalah salah satu benteng sektor dari kerajaan buton. Benteng ini di buat pada abad ke- 16. Saat ini benteng liya sudah beberapa kali di renovasi. Jadi ada beberapa tempat yang memang sudah tidak orisinil lagi. Di dalam benteng ini terdapat sebuah masjid yang sudah berumur ratusan tahun. Di depan masjid juga terdapat makam beberapa sultan buton. Benteng ini di huni oleh beberapa keluarga keturunan kerajaan. Dan mereka pula lah yang memelihara tempat ini sampai sekarang. Sejenak kami mencoba untuk merenung kembali ke beberapa abad silam dan membayangkan bagaimana kokohnya pertahanan kerajaan buton dari serangan2 V.O.C. meriam2 tua masih tampak kuat di beberapa menara pengawas. Membuktikan bahwa kerajaan buton bukanlah kerajaan biasa. Bahkan salah satu benteng peninggalannya sudah di nobatkan menjadi benteng terbesar yang ada di dunia (benteng wolio yang terdapat di pulau Bau-Bau).
masjid tua di benteng liya
kalo zaman dulu ada prajurit kaya gini pasti jadi prajurit terkeren.. hahahhaa

Dari benteng liya, kami kembali ke wanci. Tetapi, sebelum itu saya dan teman2 menyempatkan diri berkunjung ke perkampungan suku Bajo. Suku bajo adalah salah satu suku yang menetapi kepulauan wakatobi. Mereka umumnya tinggal di pesisir pantai / laut. Suku bajo terkenal dengan kehebatan mereka dalam mengarungi lautan. Merekapun mungkin tidak bisa hidup tanpa lautan. Kampung suku bajo berada di dekat pelabuhan wanci. Rumah2 mereka adalah rumah2 apung. Yaitu rumah yang berada di atas permukaan laut. Di kampung bajo ini kami di perlakukan seperti selebritis. Kemana kami berjalan di situ semua mata orang2 tertuju. Bahkan beberapa dari mereka ada yang menyapa kami dengan sapaan “hai,, halo,, artis dari Jakarta ya ??”.. artis ???.. oh my god.. tidur aja numpang2. Dari mana artisnya.. hahahaa.. ada2 saja. Tapi seru juga sih. Hehehehe.
gerbang belum jadi

Tak afdol rasanya jika tidak bernarsis ria di tempat yang unik ini. Saya langsung mengabadikan beberapa momen. Wanita2 & anak2 suku bajo, alat transportasi suku bajo dan beberapa kumpulan orang2 bajo yang sedang berpesta makan ikan tuna juga sempat saya abadikan.  Sayangnya kali ini sedang tidak ada upacara atau ritual2 adat di sini. Padahal dulu saya sempat menyaksikan salah satu upacara adat suku bajo di televisi. Upacaranya unik sekali. Hmm…!
pemukiman suku bajo

Tak terasa hari sudah hampir maghrib. Saya dan teman2 terpaksa harus menyudahi kunjungan kami kali ini. Dengan di iringi anak2 kecil yang terus mengikuti di belakang, kami beranjak menuju pelabuhan. Yaa.. malam ini saya dan teman2 harus pulang. Berakhir sudah pertualangan saya kali ini di kepulauan wakatobi. Kepulauan yang menjadi primadona negeri ini. Kepulauan yang tidak semua Negara memilikinya. Keindahan alam & kultur budayanya menjadi satu paket yang akan kita dapat jika kita mengunjunginya. Beberapa kali saya mengucapkan syukur yang tak terhingga kepada sang Khalik. Karena saya masih diberikan kesempatan yang langka. Kesempatan yang tidak semua orang mendapatkannya. Terima kasih tak terhingga juga saya ucapkan kepada teman seperjalanan. Fatih Ibrahim, reza idhil, chairil anwar & anwar nopiar yang telah menemani saya selama pertualangan kali ini. Baik buruk, senang dan sengsara kita rasakan bersama. Itu semua menjadikan sebuah cerita hidup yang tidak akan pernah saya lupakan. Terima kasih sebesara2nya juga buat keluarga bapak asraf di pulau tomia. Keramahan kalian membuat saya betah berada di sana. Saya tidak pernah tahu bagaimana caranya membalas budi baik kalian. Hanya mampu berdo’a semoga tuhan membalas kebaikan bapak sekeluarga. Untuk nova di wanci juga terima kasih banyak atas keramah tamahannya. Ikan bakar itu akan selalu menghantui pikiran saya ketika saya mendengar kata “wakatobi”.. thanks bro..!.
Spesial thanks juga saya ucapkan buat keluarga besar Makassar backpacker. Tanpa dukungan kalian semua mungkin trip kali ini tdak akan berjalan sesuai rencana. Terima kasih atas bantuan baik  itu bantuan materi bahkan bantuan moril. Semoga dilain waktu kita bisa bertemu kembali. Amin..!
Terima kasih juga buat teman2 sesama backpacer di samarinda atas supportnya. Mari bersama2 kita jelajahi dunia ini. Membuktikan kebesaran2 tuhan yang ada di belahan bumi lainnya. Akhir kata mohon ma’af bila ada salah2 kata. Kekhilafan adalah milik manusia dan kesempurnaan hanya milik ALLAH SWT.  Wassalam.

                                                                                                            Deni Muliawan.

3 komentar: